BENIH YANG BINASA
“… Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.”
Pada sebagian terjemah surah Al Fath ayat 29 diatas, Allah subhanahu wata’ala memberikan perumpamaan generasi sahabat yang bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Generasi terbaik yang diberi pendidikan dan pembinaan melalui panduan wahyu (Al Quran dan sunnah). Mereka diibaratkan seperti benih yang akarnya kuat, batangnya tegak lurus dan kokoh serta menyenangkan para penanamnya.
Tanaman tidak dapat diketahui dengan pasti keakuratan hasil dengan semua rencana dan usaha. Mendatangkan bibit terbaik, lahan paling subur, tempat atau lingkungan yang kondusif dan sebagainya. Dibalik semua proses tersebut masih banyak faktor x yang sangat mempengaruhi hasil seperti pengaruh cuaca, hama, kejadian tak terduga dan sebagainya.
Di dalam Al Quran, Allah subhanahu wata’ala memberi ilustrasi beberapa amal, aktivitas dan semisalnya bagaikan proses bercocok tanam. Sesuatu yang tidak dapat dipastikan ganjaran dan hasilnya. Kapan amal atau tanaman tersebut akan mendapatkan hasil dengan baik dan unggul atau rusak dan hancur? Maka ada baiknya kita belajar dari beberapa amtsal (permisalan) dalam Al Quran tentang tanaman saat Allah ibaratkan hasil atau kualitas sebuah amal dengan tanaman, pohon, benih atau semisalnya. Sebuah amal shaleh yang begitu besar dan hanya Allah yang Maha Mengetahui balasannya serta hasil yang didapatkan pelakunya.
Di dalam surah Al Baqarah ayat 261, Allah subhanahu wata’ala memberi perumpamaan balasan infak fi sabilillah seperti sebutir biji/benih yang menumbuhkan tujuh tangkai. Kemudian setiap tangkai memiliki seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Hanya saja hasil yang sangat besar itu dapat rusak dan hancur. Mengapa? Lipatan hasil tanaman tersebut rusak karena riya’ dan tidak menjaga (memperbaharui dan terus menerus) iman kepada Allah dan hari Akhir. Sehingga para penanam dan pemilik benih yang menginvestasikan bibitnya tidak mendapatkan hasil sedikitpun.
Melalui amal shaleh yang luar biasa balasannya ini, kita bisa memetik ibroh dan jembatan nilai yang besar. Di saat anak-anak menjadi tumpuan dan harapan orangtua untuk hasil yang terbaik. Ia bagaikan benih tanaman yang harus dikuatkan akarnya, kokoh batang dan memberikan banyak buah manfaat untuk diri, keluarga, masyarakat dan agamanya. Mungkin hasil pendidikan yang seperti menanam generasi ini pun dapat rusak seperti amal shaleh yang diumpamakan layaknya benih dan tanaman. Mungkin ia rusak karena riya’ dan iman para penanamnya atau pemilik benih yang melenceng (tak sesuai tuntunan Allah).
Cukupkah sampai disini? Ternyata Al Quran menggambarkan perumpamaan pada ayat selanjutnya. Bahkan hal ini justru menghancurkan sebuah tanaman yang bertempat di lahan strategis dan sangat subur. Jika dikelola dan dirawat dengan baik, ia menghasilkan buah-buahan empat kali lipat. Jika tidak cukup air (seadanya) pun maka sudah memastikan tanaman tetap memberi hasil yang wajar. Dengan jaminan tempat strategis, fasilitas dan sebagainya, amal ini juga dapat habis dan hangus terbakar. Apa sebab tanaman tak berhasil padahal semua perencanaan, proses dan prediksi data sudah memastikan hasil? Hal ini karena pekerjaan tersebut tidak dibangun untuk mencari ridho Allah (mardhothillah) dan meneguhkan jiwa.
Al Quran menggambarkan istri-istri diibaratkan seperti ladang tempat bercocok tanam.
Allah SWT berfirman:
نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّـكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ ؕ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّکُمْ مُّلٰقُوْهُ ؕ وَ بَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ
“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah : 223)
Lihatlah! Manusia diberi perumpamaan berladang bahkan sejak sebelum menanam benih (menikah dan memiliki keturunan). Menyemai benih dengan kebaikan dan ketakwaan. Adakah yang ingin benih yang lama ditanam dan dinanti menjadi binasa?
Jangan sampai segala rencana, usaha dan jerih payah kita dalam membesarkan generasi-generasi ini hancur, rusak bahkan tak berbekas sama sekali. Sebagaimana amal shaleh yang juga diumpamakan layaknya tanaman atau benih yang rusak dan hancur di dalam Al Quran. Segala perkembangan benih (anak) yang lebih baik dari hari ke hari tentu membahagiakan. Namun jangan sampai tanaman yang sedang tumbuh itu rusak karena riya’ dan menyebut-nyebutkan segala proses dan perkembangan kebaikan mereka. Riya’ dan apa yang terbesit di dalam hati hanya Allah yang Maha Mengetahui.
Atau mungkin karena kurang dan melemahnya iman kita terhadap Allah dan hari Akhir. Saat proses menanam berjalan atau mengidamkan hasil yang bersandar pada diri anak (yang cerdas, baik, mudah belajar dan sebagainya), bersandar pada proses sesuai yang diharapkan, kepiawaian guru atau orangtua hingga menyebabkan kurang bergantung dan bersandar pada Allah. Tidak pula hancur terbakar tanpa sisa karena tidak mencari ridho Allah dari setiap usaha dan hasil yang baru Allah perlihatkan sebagian atau belum Allah anugerahkan. Namun sudah membelokkan tujuan sesungguhnya dari mengejar ridho Allah dan akibatnya tidak memperteguh jiwa kita.
Ya Allah… bimbinglah kami.
Wallahu a’lam
Source : Benih yang Binasa
